Slavish Mentality

Sunday, 18 November, 2007 at 1:29 PM Leave a comment

Republika, Selasa, 16 Oktober 2007

patung.jpgJika pemerintah atau siapa saja mau membuka pidato pembelaan Bung Hatta pada 1928 di depan Mahkamah Belanda di Den Haag dan pidato pembelaan Bung Karno di depan pengadilan kolonial di Bandung pada 1930, tentu mereka akan berpikir ulang tentang kebijakan ekonomi negara yang semakin terpasung dalam kapitalisme global. Sudah banyak kritik disampaikan mengenai penjualan aset-aset strategis bangsa kepada pihak asing dengan saham mayoritas, tetapi kebijakan itu tetap saja berlangsung. Bukankah ini sebuah penjajahan ekonomi yang justru diundang masuk oleh anak bangsa sendiri?

Soekarno-Hatta dengan keberanian luar biasa ingin menghalau imperialisme itu, generasi yang ahistoris berikutnya malah bangga menyerahkan batang leher kepada pihak asing padahal bangsa ini sudah merdeka. Kata seorang penulis Aljazair, pandangan ahistoris berisiko tunggal: Orang gagal membaca realitas. Realitas kita sekarang adalah bahwa para elite kita yang lagi manggung kini tetap saja merasa nyaman sekalipun rumah tangga bangsa ini sedang digarong pihak asing, tentu dengan perjanjian-perjanjian formal sebagai layaknya bangsa merdeka.

Soekarno dan Hatta yang menyampaikan pidatonya untuk melawan system kapitalisme/imperialisme pada saat bangsa ini masih terjajah, mengapa sekarang pemerintah tidak merasa tersinggung dengan penguasaan asing terhadap aset-aset vital milik bangsa? Jawabnya karena kita sedang sama mengidap slavish mentality (mental budak). Saya mohon pimpinan negara dari yang paling pucuk sampai tingkat II diwajibkan membaca dua pidato itu untuk melihat secara kritikal mau ke mana negeri ini akan dibawa, mau digadaikan, mau dijual, atau mau diapakan? Pidato Hatta berjudul ”Indonesie Vrij” (sudah diterjemahkan menjadi ”Indonesia Merdeka”) dan pidato Bung Karno ”Indonesia Menggugat”.

Kedua pidato itu sama bobotnya, sama pentingnya. Bedanya Hatta lebih dulu menyampaikan di Den Haag dalam bahasa Belanda dan Bung Karno di dalam negeri dua tahun kemudian, disampaikan dalam bahasa Indonesia dengan kutipan pendapat para sarjana Belanda dan Barat lainnya untuk mendukung posisinya sebagai pejuang nasionalis yang sedang dituduh menghasut.

Bagi saya kedua pidato ini semestinya dijadikan pedoman kita berbangsa dan bernegara justru pada saat kekayaan Indonesia sedang jadi rebutan pihak asing. Dengan membaca kedua pidato itu kita akan tahu bahwa apa yang berlaku sekarang ini agak mirip dengan zaman VOC dengan politik monopoli perdagangannya yang sangat destruktif bagi nusantara ketika itu.

Aneh bin ajaib bangsa dan negara yang mengaku merdeka telah mengundang VOC-VOC baru untuk memberikan hak monopoli kepada pihak asing. Nanti bila kekayaan bumi dan laut kita sudah terkuras, pengusaha asing itu akan lenggang kangkung meninggalkan arena yang sudah kering-kerontang, dan tinggallah anak negeri menangisi nasib sebagai manusia tak berdaya. Bisa saja sebagian anak bangsa menjadi kaya raya karena telah membantu asing, tetapi bagi mayoritas rakyat yang tersisa tinggal ampasnya saja. Rakyat banyak ini di era penjajahan ditindas oleh asing secara langsung, di zaman kemerdekaan ditindas melalui ”kebaikan hati” pemerintahnya sendiri.

Oleh sebab itu, sebelum bangsa ini betul-betul menjadi bangsa kuli 100 persen, siapa tahu dengan membaca pidato Bung Karno dan Bung Hatta, kita masih bisa sadar dan siuman dengan menyatakan: Kita sudah terlalu jauh melenceng dari jalan yang benar, kita sudah semakin terjerat dalam tali lasso kapitalisme global yang mencekik leher bangsa ini tanpa belas kasihan. Saya harap Menteri Nuh memperbanyak kedua pidato di atas dan membagikannya kepada elite bangsa ini.

(Ahmad Syafii Maarif )

Entry filed under: Info-Berita. Tags: .

Indonesia (v.s.) Malaysia Tragedi Amir Sjarifuddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

November 2007
S M T W T F S
« Oct   Dec »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Statistik

  • 40,052 hits

Galeri Photo

Can't sleep..

Kesian.. Korban kedua.. Itu burung nabrak kaca hotel JW.Maerot medan..

Perintis kemerdekaan, medan.. lt.1929 JW.M

DSC_0545-608481879

DSC_05431183489326

More Photos

%d bloggers like this: